Minggu, 15 Januari 2017

Wanita itu Cita-citanya Langsing, tapi Hobinya Makan. Begitukah?

Baru nulis judul, rasanya saya udah senyum-senyum sendiri. Cuplikan tersebut saya ambil dari sebuah gambar yang beredar di group wa pertemanan. Olok-olokan tentang perempuan yang kayaknya sih bener banget. Begitukah?



Jadi begini, saya menulis ini berawal dari kejadian hari ini (16 Januari 2017). Hari minggu yang menyenangan tentunya, karena bebas beraktifitas dan bisa mbangkong alias bangun siang. Kesiangan bangun, artinya no breakfast. Bingung juga mau makan apa, karena jam nanggung untuk makan siang. Alhasil, keinget ada sisa bakso hasil masak-memasak kemarin bareng temen-temen kampus. Jadilah, semangkuk bakso yang isinya 4 butir jadi ganjel perut. Setelah makan bakso, lhaaa kok seru banget browsing tentang hidroponik dan tetek bengeknya. Tak terasa, ternyata sudah menjelang sore. Dan tiba-tiba di layar leptop ada link artikel tentang cara-cara diet. Hahahaa... Pertanda apa ini?

Kalo sudah menghadapi artikel semacam ini, saya selalu merasa tidak porposional lagi. Tinggi 155 cm, dengan berat badan 57 kg, jelas menurut teori sudah kelebihan 12 kg dr berat badan ideal wanita. So, gimana ya?

Pendek pikir, akhirnya pingin mendadak praktik diet karbo. Hmmm... seharian ini kan belum makan nasi, to. Jadi ya sudah, niat tak makan nasi aja sekalian. Tapi, sejujurnya dari lubuk perut yang paling dalam, saya lapar!

"Baiklah, silahkan makan selain karbo, Alya..". Nah, kreatiflah kepala mikir apa yang bisa dimakan selain karbo. Hmm... ada telur ayam kampung 2 butir. Kayaknya cukup enak untuk dibuat telur setengah matang? Jadilah, maka jadilah. 10 menit berlangsung, jreng jreng... telur setengah matang bertabur italian herbs terhidang di meja. Dan tentu, untuk menghabiskannya tak akan butuh lebih banyak waktu daripada membuatnya.

Mikir lagi, apa lagi ya yang non karbo? Jreng jreng, ada jelly sisa Hisyam beberapa butir. Ada juga keripik bayam kiriman dari Aunty. Lumayan kan begituan untuk snack. Dan dan dan, pada akhirnya setelah jelly dan keripik bayam, ada beberapa daftar makanan lagi yang nyangkut di mulut dan mengendap di perut. Hallaaahh... dieat apa-apaan ini??

Terlanjur merasa gagal, ya sudah, ambil piring dan makan nasi. Di kulkas masih simpan kalio ayam dengan kacang merah, plus balado jengkol dan ikan asin pete cabe hijau. Dengan sedikit waktu menunggu mereka keluar dari microwave, akhirnya makan malam juga (dan dengan porsi yang aduhai...)

Kesimpulannya?

1. Jangan berfikir diet tanpa rencana
2. Jika mau kurus, jangan berfikir mengurangi makan dengan cara ekstrim
3. Jika mau diet, bulatkan tekat
4. Pilih diet yang sehat dan tidak menyiksa, jangan sampe gegara tahan makan, malah pingsan
5. Berfikirlah untuk olahraga
6. Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang (kalo udah terlanjur lapar, ya kaya pengalaman saya hari ini deeehhh...)

Ya sudah begitu saja hasil renungan diet hari ini. Percayalah, sehat lebih penting daripada langsing/kurus :)

Kamis, 12 Januari 2017

Hidroponik Paling Sederhana (Sistim Wick/Sumbu)


Jadi begini, setelah saya coba buat tutorial hidroponik kemarin. Sekarang saya coba tulis semuanya di blog. Tujuannya, agar bisa dibaca kapan saja dan pastinya lebih mudah dimengerti. 

Hidroponik diyakini sebagai metode tanam tanpa media tanah yang menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan lebih segar, pupuk dan air juga jauh lebih hemat, selain itu, metode ini cocok dikembangkan di area sempit. Nah, yang nomer tiga ini nih yang jadi alasan saya belajar hidroponik. Maklum, tinggal jadi mahasiswa di rumah kost, ga mungkin bisa praktik tanam menanam dengan metode konvensional. Lagian di wilayah perkotaan sekarang, memang masih ada ya lahan besar untuk bertanam sayur mayur? Apalagi kalo tinggal di apartment, kemungkinan malah lupa bentuk tanah itu seperti apa. Hahaa...

So, yang paling sederhana dan yang paling mudah, coba kita bertanam dengan hidroponik sistem Wick. Sistem hiroponik ini murah, gak mau ribet, dan bisa dipraktikkan dimana saja.

Yang dibutuhkan, hanya :

1. Rockwoll
Bentuknya semacam busa, dan mudah dibeli di toko pertanian mana aja. Harganya sekitar 30rb per 1/4 kg. Dan 1/4 kg itu sudah sangat cukup untuk bertanam lebih dari 100 tanaman. Atau jika ga ada, bisa juga diganti dengan busa. Prinsipnya bahan yang poros dan bisa menahan air.
2. Bekas botol air mineral
3. Sumbu
Yang keren, biasa pakai flannel. Tapi prinsipnya adalah bahan yang bisa dipake air bisa meresap ke bagian akar tanaman. Jadi bisa pakai kaos bekas, atau sumbu kompor.
4. Nampan
5. Nutrisi tanaman
Kalo untuk hidroponik namanya, AB mix. AB mix ini ada yang untuk tanaman sayuran (misalnya sawi, kangkung, bayam, dll). Ada juga yang untuk tanaman buah (misalnya tomat, cabai, dll). Harganya juga cukup murah. Kemasan ekonomisnya 22rb, sdh cukup digunakan untuk banyak tanaman. Petunjuk penggunaannya biasanya ada di setiap kemasan. Biasanya setelah dilarutkan, diencerkan lagi dengan air dengan ukuran 5 ml A + 5 ml B + 1000 ml air (ukur dg TDS sekitar 1000-1200 ppm).
Kebutuhan nutrisi tiap tanaman berbeda, pun berpengaruh terhadap usia tanaman. Kangkung misalnya, pada awal pertumbuhan membutuhkan nutrisi sekitar 500 ppm, dan akan naik seiring usia tanaman, hingga mencapai 1200 ppm. Untuk tau karakteristik setiap tanaman, baiknya banyak-banyak browsing dan baca berbagai sumber ( nulis begini sambil ngaca nih :D )
6. TDS meter dan pH meter (optional)
Jangan stress dengan alat ini. Harganya tidak mahal kok. TDS berfungsi untuk mengukur kepekatan larutan. Kalo ga ada ya ga papa. Asal pas nglarutin nutrisi sesuai dengan aturan yang berlaku. Nilai TDS yang baik untuk pertumbuhan setiap tanaman berbeda. Sedangkan pH meter digunakan untuk mengukur derajat keasaman air. pH yang baik adalah pH netral, namun pada tanaman tertentu hidup pada pH  lebih asam/basa.
7. Benih tanaman
8. Air


 Penampakan Alat dan Bahan


So, mari kita mulai...

1. Pembenihan 
Pada tahap ini, yang kita siapkan adalah rockwoll, benih dan air. Potong rockwol menjadi balok-balok kecil (3x3x2 cm atau bisa lebih kecil  atau lebih besar, disesuaikan dengan tempat kita bertanam), lalu letakkan dalam nampan, dan basahi dengan air. Cukup sampai rockwoll basah saja, jangan sampai menggenang.
Setelah itu, kita bisa mulai menanam benih di atas rockwoll. Kalo benih yang ukuran kecil-kecil banget, misal bayam atau seledri, bisa langsung diusap aja ke rockwoll (ditempelin di atas rockwoll). Kalo benih yang agak besar, misal kangkung, bisa lubangi rockwoll dengan ujung pulpen atau tusuk gigi, lalu tanam bibit di dalamnya. Fleksibel aja, gak pake harus begini harus begitu. Yang penting, bibit ditanam supaya bisa lekas tumbuh. Jangan lupa, setelahnya tutup nampan dengan plastik hitam supaya benih cepat berkecambah.


 Benih disemai di rockwoll


2. Persiapan Tempat (Media Tanam)
Seperti yang tadi sudah saya utarakan, bahwa sistem ini adalah sistem yang paling mudah dan pasti bisa dipraktikkan oleh kita semua. Untuk proses persiapan tempat ini, kita potong bekas air mineral di 1/3 bagian dari tutup botol. Lalu, buang tutupnya, dan letakkan terbalik. Setelahnya, potong kain flanel yang berfungsi sebagai sumbu, dan letakkan di mulut botol. Finish. Dan air nutrisi bisa langsung dituang di bagian dasar botol, berikut bibit tanaman dalam rockwoll yang sudah tumbuh di bagian atasnya.
Instalasi Hidroponik Sistim Wick

3. Pemeliharaan
Cara pemeliharaan dan masalah-masalah yang biasa tumbuh dari sistem ini adalah :
a. Karena warna botol mineral biasanya bening, ini memungkinkan sinar matahari bisa masuk ke dalam botol, sehingga akan mudah lumut tumbuh di dalamnya. Untuk mengatasinya, kita bisa mengecat botol mineral dgn warna hitam atau bahkan menutupnya dengan selotip hitam.
b. Penggantian air nutrisi dilakukan setiap 4 atau 5 hari sekali. Tanda-tanda air nutrisi  yang harus diganti adalah, warna air keruh tapi jika diukur dengan TDS hasilnya tinggi.
c. Usahakan rutin mengecek air dalam wadah, dan cuci wadah dengan air bersih setiap mengganti atau mengisi ulang air nutrisi agar tidak mudah tumbuh penyakit. Setiap selesai digunakan, kain flanel juga perlu dicuci agar tidak menjadi sarang penyakit.
d. Ga sabaran lihat tanaman tumbuh. Ini sih saya banget. Apalagi waktu nyoba hidroponik pertama kalinya.

Tutorial Hidroponik Sistim Wick 

Ada pertanyaan melalui inbox kepada saya, apakah hidroponik itu tidak lebih mahal dibandingkan pertanian konvensional? Hmm... menurut saya mahal atau tidak mahal itu fleksibel. Tapi saya akan coba kalkulasikan pengeluaran saya selama menggunakan hidroponik sistim wick ini (yang ga disebut, berarti free alias gratis alias menggunakan fasilitas yg ada dan yang bertanda optional berarti tidak wajib ada)

1. Rockwoll 1/4 = 30.000
2. AB mix = 22.000
3. Benih (bayam/kangkung) = 10.000
4. Flanel = 9.000 (bisa diganti kaos bekas)
5. TDS meter/pH meter = 70.000 (optional)

Nah,setelah ini tertarikkah untuk mencoba?